Selasa, 02 April 2013

Sekolah itu Salah Satu Tiket Menggapai Sukses


TUGAS CERPEN DINAS 2012-2013
Unsur Instrinsik
Pengarang                   : Ratna Palupi Nurfatimah
Tema                          : Cinta Tanah Air
Judul                           : Sekolah itu Salah Satu Tiket Menggapai Sukses
Penokohan                  : Aku, Ibu, dan Penjual Cobek
Alur                             : Maju
Sudut pandang             : Orang Pertama
Latar                            : Pengalam penulis
Gaya Cerita                 : “Aku” sebagai tokoh utama dalam cerita
Unsur Ekstrinsik
Nilai Moral                  : Rela Berkorban
Nilai Agama                : Keikhlasan
Nilai Sosial                  : Belajar dari kehidupan oranglain

Siang ini aku hanya termenung di depan labtopku sambil berfikir tulisan apa yang akan aku buat untuk tugas dari dinas pendidikan yang di berikan melalui sekolahku. Fikiran ini menjadi buntu rasanya jika harus menuangkan ide yang bertemakan tentang cinta tanah air, tak seperti derasnya fikiranku saat menuangkan tulisan-tulisan yang bertemakan cinta ataupun pengalaman pribadi. Sadarku mengingatkanku betapa kurangnya aku membaca ataupun memiliki pengetahuan-pengetahuan tentang tanah air ini.
Aku pun tak mau pusing, aku mengikuti khayalan buntuku. Kalau memang tak ada ide tak apa, menurutku tak harus marah pada diri yang memang mungkin sedang ingin istirahat. Sedang tak ingin diganggu oleh siapapun. Termasuk aku dan keinginanku yang sering kali memforsirnya. Tak mau tahu dengan capeknya. Mengacuhkan waktu istirahatnya tanpa membuatkan jadwal.
Bagaimana tidak memforsir, seharian beraktivitas tanpa henti, mengingat beribu kegiatan di kelas 3 ini yg semakin padat. Mulai pagi harus bergulat dengan rasa malas dan bangun setengah lima untuk mengawali kegiatan dengan bersiap-siap berangkat ke sekolah dan sarapan pagi. Berangkat sekolah jam 05.45 pagi, karena  Jam 06.30 sampai jam 14.45 aku berada di sekolah. Tak cukup sampai disitu, sepulang sekolah biasanya aku dan teman-teman mencari makan siang untuk mengisi perut sebelum bel masuk les berbunyi, untungnya aku mengikuti bimbel di salah satu pusat bimbingan belajar di sebelah sekolahku, jadi aku tidak harus melakukan perjalanan yang melelahkan untuk mengikuti bimbel. Bimbel tersebut berdurasi selama 4 jam, mulai jam 16.00 sore – 20.00  malam dan biasanya aku kembali menginjakkan kaki di rumah jam 21.00 malam. Bisa di bayangkan setiap harinya aku hanya berada di rumah selama 8-9 jam.
Sungguhh . . . hari-hari yang sangat amat melelahkan yang harus ku lalui selama setahun ini sampai aku bisa mendapat jurusan yg aku inginkan nanti. Namun hingga sekarang akupun  belum tahu jurusan  apa yang akan menjadi tujuan akhirku, sementara kejenuhan akan rutinitas itu telah menguasai diri ini.
Rasa malas ini, rasa lelah ini, ternyata masih lebih kuat daripada semangatku, aku mengaku kalau aku masih terkalahkan oleh malasku ini. Adikku Hanna yang saat ini berusia 4 tahun seringkali menjadi sasan BT ku (Borring Time), sering kubuat marah atau bahkan menangis karena keusilanku atau tanggapanku yang tidak kompromi dengan apa yang dia inginkan. Kalau sudah begitu, tentunnya suasana rumah menjadi semakin hulala………, dan ujung-ujungnya aku juga yang semakin BT karena dimarahi ibu!
            Saat aku mulai menyandarkan punggungku di kursi ini, terdengar sayup-sayup orang menawarkan “layaaaaahhh, cobeek, ulekaaan . . .  . .  .” terdengar seperti suara anak umur belasan tahun, suara itu makin lama makin kencang, sepertinya menuju arah depan jalan rumahku.
Tak beberapa lama ibuku keluar, ia menyerukan “mas layah . . !” dan seketika suara orang itu berhenti tepat di depan rumahku.
“mas, brapaan layahnya?” tanya ibuku.
niki seng alit gangsalwelas ewu bu, nek seng ageng kalehdoso ewu” jawab penjual layah tersebut.
            Penasaran, aku pun keluar rumah menengok apa yang sedang di lakukan ibu. Waw, ternyata sang penjual layah, cobek, dan ulekan tersebut masih berusia 16 tahunan, seumuranku. Aku pun berjalan menghampiri mereka, dan bertanya-tanya dalam hati, “anak ini masih bisa di bilang remaja, seharusnya ia bersekolah kan?, mengapa ia berjualan layah, cobek, ulekan seberat itu?”
Memang tidak ringan berjalan di sepanjang jalanan kota sambil membawa barang yang terbuat dari batu berat,  apalagi disaat musim kemarau yang panasnya menyengat dengan debu yang beterbangan pada setiap harinya.
“Mas, ndak sekolah?” aku pun menyeletuk.
“hehe, belum lagi mbak. Saya bantu orangtua dulu” jawab mas si penjual layah sambil tersenyum ikhlas.
“lo, kenapa? Bukanya setiap orangtua ingin anaknya sekolah ya?” lagi-lagi aku mengeluarkan pertanyaan dari mulutku tanpa berfikir dulu.
Iya mbak, orangtua saya pengen saya sekolah, saya pun juga pengen sekolah, tapi ya bagaimana lagi, cukup buat makan saja sudah syukur. Mudah-mudahan dengan saya bantu orang tua, adik saya bisa sekolah terus ya mbak. Keadaan yang memaksa saya seperti ini.” Jawab anak penjual cobek itu lagi.
Ya Allah…………., betapa berat beban hidup yang harus dipikulnya, bahkan jauh lebih berat dari cobek dan ulekan yang dipikulnya. Hal ini tidak sebanding dengan bebanku yang sebenarnya telah di tunjang dengan fasilitas, tapi aku tidak pernah mensyukurinya.
“sudah, sudah jangan kepo kasihan masnya kualahan jawab pertanyaanmu yang Cuma tanya aja tapi ndak beli” sahut ibuku.
“biarin, aku kan belinya sudah di wakilin ibu haha..” jawabku sambil tertawa kecil. Aku dan ibuku kalau berbicara memang suka blak-blakan, karna memang kita sudah bagaikan teman hihi..
“Ini cobeknya ambil darimana mas?” tanya ibuku.
“Tuhh kan sekarang ibu yang kepo!” celetukku..
“Wah ini saya ambilnya jauh bu, di Tulungagung sana pusatnya cobek batu tepatnya di Dukuh Mojo Desa Wajak Kidul Kecamatan Boyolangu.” Jawab si penjual cobek dengan sopan.
“Jauh banget, masnya ini kok bisa sampek sini naik apa?” tanyaku lagi.
“Biasanya saya beramai-ramai sama teman-teman mencari tumpangan truk mbak, kalau ndak gitu mana ada angkutan umum yang mau menerima penumpang seberat saya saya hehe” jawab penjual tersebut sambil bercanda.
Tak beberapa lama kemudian..
“wah wah bisa aja mas ini, yasudah mas saya beli yang ini, cobek yg besar satu yang kecil satu dan ulekannya dua ya. Berapa totalnya?” tanya ibuku..
“totalnya 45.000 bu, buat penglaris hehe” jawab si penjual cobek tersebut..
“Iya, sebentar ya mas..”
Aku dan ibuku pun masuk rumah untuk mengambil uang, tak lama kemudian aku keluar untuk membayar cobek yang dibeli tadi “ ini mas uangnya, kembaliannya untuk beli minum” sembari kusodorkan uang Rp. 50.000,00 an.
Percakapan antara aku, ibu dan penjual cobek pun selesai. Aku pun duduk kembali di kursi belajarku sambil memandangi labtop.Tentu saja masih sama seperti tadi, nyatanya otakku yang buntu ini masih belum encer juga untuk mengarang tugas cerpen dari Dinas Pendidikan. Tiba-tiba handphone yang di sebelahku led merahnya nyalah kedap-kedip dan bergetar-getar yang menggodaku untuk membuka pesan disana. Langsung aku menyautnya dari meja dan ku buka pesan yang ternyata dari temanku yang sedang di buat buntu juga oleh tugas cerpennya. Ia mengajakku untuk mengerjakan cerpen bersama. sebut saja dia Nana, dia teman seperjuanganku kemana-mana (sahabat).
Setelah aku berbincang dengannya melalui SMS, akhirnya kami pun sepakat untuk ke suatu tempat dan mengerjakan tugas cerpen kami bersama-sama. Kami memutuskan untuk pergi ke taman Pelangi sambil mencari inspirasi untuk cerpen kami nanti.
            Sesampainya di taman Pelangi, lagi-lagi aku melihat seorang penjual cobek lelah termenung sembaring menutup wajah di indahnya hari itu. Menanti sebuah keberuntungan yang tak kunjung pula hadir. Pasrah akan sebuah masa depan yang terlihat begitu gemerlap. Wajahnya memelas, “apa ada orang yang tak bersyukur setelah melihatnya?” pikirku.. Di sudut taman itu ia duduk manis di bawah pohon dengan resah dan lelah. Ia tak bersalah sehingga harus menerima semua ini, “tak adakah yang ingin menyelamatkannya?”
            Aku memang tak sepenuhnya tahu tentang keadaan mereka para pendekar cobek. Aku pun tak mengerti mengapa aku susah sekali bersyukur atas keadaanku, aku akui aku sering mengeluh dengan apa yang terjadi pada hidupku. Rasa tak menyenangkan yang selalu aku keluhi, yang sebetulnya merupakan hal-hal sepele, tetapi setelah melihat para penjual cobek di sudut taman dengan pasrah itu aku jadi malu untuk mengeluh. Aku pun berfikir “apa mereka pernah mengeluh? Jika iya, mengeluh pada siapa?”
            Tatapanku tertuju terus pada tukang cobek di sudut taman itu, mereka masih muda, mungkin tak beda jauh juga dengan umurku. Tapi mereka berani mengadu nasib dengan pasrah di sepanjang kota dengan menjual cobek yang mungkin menurutku tidak selalu laku setiap harinya. Kenapa? Karena cobek bukan kebutuhan pokok (sembako) yang di perlukan setiap saat dan setiap hari, apalagi cobek sudah jarang dipakai semenjak adanya tekhnologi yang lebih canggih, yaitu blender dan chopper.
            Aku memang belum tahu bagaimana cara yang pantas untuk membantu mereka, tapi disini aku ingin berdoa untuk mereka yang selalu berjuang demi kehidupanya yang antah berantah. Satu hal yang menjadi catatan bagi saya, mereka menjalani hidup ini dengan realistis. Mereka meninggalkan impian yang tak tergapai dengan memgejar impian yang “mungkin” dapat dicapai, walau hanya untuk membantu meringankan beban orang tua ataupun demi cita-cita adiknya. Sekolah bagi mereka mungkin impian yang tak tergapai. Pengalaman hidup yang mereka alami adalah sekolah hidupnya, sementara aku?????
Rasa syukur ini harusnya keluar dari lubuk hati, bagaimana tidak??
“Banyak orang suskses tanpa harus sekolah tinggi, namun jauh……….. lebih banyak orang-orang sukses dengan berpendidikan tinggi”. Presiden direktur, Direktur, Budayawan, Dokter, Dosen, Pilot, Camat, Bupati, Menteri, Presiden, adakah yang lulusan SMP atau SMA saja? Setidaknya mereka berkesempatan megenyam pendidikan tinggi.
Aku harus mensyukuri kesempatanku untuk dapat bersekolah! Karena lebih banyak kesempatan dan peluang sukses yang dapat kuraih melalui sekolah yang tinggi.
Bagiku, sekolah adalah salah satu tiket untuk menggapai sukses, namun sekolah juga bukan satu-satunya tiket untuk menggapai sukses. Banyak orang berpendidikan tinggi namun sukses tak juga di dapat, sebaliknya banyak pula yang tidak berpendidikan tinggi tetapi hidupnya sukses.
Orang orang yang mampu mengambil pelajaran hidup, banyak bersyukur, dan tidak mudah menyerah adalah orang-orang yang  memperoleh “sekolah kehidupan” yang baik. Penjual layah adalah pejuang hidup dan dia adalah salah satu dari banyak orang-orang yang tengah “sekolah kehidupan” dan darinyalah aku mengambil pelajaran hidup, bahwa “kesempatanku sekolah adalah salah satu tiket suksesku menggapai masa depan” oleh karenanya aku tak pantas menyia-nyiakannya, aku harus berjuang menggapai impian dan suksesku!!. Darinya pulalah tugas membuat cerpenku dapat kuselesaikan.
Terima kasih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar