TUGAS CERPEN DINAS 2012-2013
Unsur Instrinsik
Pengarang : Ratna Palupi Nurfatimah
Tema : Cinta Tanah Air
Judul : Sekolah itu Salah Satu Tiket Menggapai Sukses
Penokohan : Aku, Ibu, dan Penjual Cobek
Alur : Maju
Sudut pandang : Orang Pertama
Latar : Pengalam penulis
Gaya Cerita : “Aku” sebagai tokoh utama dalam cerita
Unsur Ekstrinsik
Nilai Moral : Rela Berkorban
Nilai Agama : Keikhlasan
Nilai Sosial : Belajar dari kehidupan oranglain
Siang ini aku hanya termenung di depan labtopku sambil berfikir tulisan
apa yang akan aku buat untuk tugas dari dinas pendidikan yang di berikan melalui sekolahku.
Fikiran ini menjadi buntu rasanya jika harus menuangkan ide yang bertemakan
tentang cinta tanah air, tak seperti derasnya fikiranku saat menuangkan
tulisan-tulisan yang bertemakan cinta ataupun pengalaman pribadi. Sadarku
mengingatkanku betapa kurangnya aku membaca ataupun memiliki
pengetahuan-pengetahuan tentang tanah air ini.
Aku pun tak mau pusing, aku mengikuti khayalan buntuku. Kalau memang
tak ada ide tak apa, menurutku tak harus marah pada diri yang memang mungkin
sedang ingin istirahat. Sedang tak
ingin diganggu oleh siapapun. Termasuk aku dan keinginanku yang sering kali
memforsirnya. Tak mau tahu dengan capeknya. Mengacuhkan waktu istirahatnya
tanpa membuatkan jadwal.
Bagaimana tidak memforsir,
seharian beraktivitas tanpa henti, mengingat beribu kegiatan di kelas 3 ini yg
semakin padat. Mulai pagi harus bergulat dengan rasa malas dan bangun setengah
lima untuk mengawali kegiatan dengan bersiap-siap berangkat ke sekolah dan
sarapan pagi. Berangkat sekolah jam 05.45 pagi, karena Jam
06.30
sampai jam 14.45 aku berada di sekolah. Tak
cukup sampai disitu, sepulang sekolah biasanya aku dan teman-teman mencari
makan siang untuk mengisi perut sebelum bel masuk les berbunyi, untungnya aku
mengikuti bimbel di salah satu pusat bimbingan belajar di sebelah sekolahku,
jadi aku tidak harus melakukan perjalanan yang melelahkan untuk mengikuti
bimbel. Bimbel tersebut berdurasi selama 4 jam, mulai jam 16.00 sore – 20.00 malam dan biasanya aku kembali menginjakkan
kaki di rumah jam 21.00 malam.
Bisa di bayangkan setiap harinya aku hanya berada di rumah selama 8-9 jam.
Sungguhh . . . hari-hari yang
sangat amat melelahkan yang harus ku lalui selama setahun ini sampai aku bisa
mendapat jurusan yg aku inginkan nanti. Namun hingga sekarang akupun belum tahu jurusan apa yang akan menjadi tujuan akhirku,
sementara kejenuhan akan rutinitas itu telah menguasai diri ini.
Rasa malas ini, rasa lelah ini,
ternyata masih lebih kuat daripada semangatku, aku mengaku kalau aku masih
terkalahkan oleh malasku ini. Adikku Hanna yang saat ini berusia 4 tahun
seringkali menjadi sasan BT ku (Borring Time), sering kubuat marah atau bahkan
menangis karena keusilanku atau tanggapanku yang tidak kompromi dengan apa yang
dia inginkan. Kalau sudah begitu, tentunnya suasana rumah menjadi semakin
hulala………, dan ujung-ujungnya aku juga yang semakin BT karena dimarahi ibu!
Saat
aku mulai menyandarkan punggungku di kursi ini, terdengar sayup-sayup orang
menawarkan “layaaaaahhh, cobeek, ulekaaan . . .
. . .” terdengar seperti suara
anak umur belasan tahun, suara itu makin lama makin kencang, sepertinya menuju
arah depan jalan rumahku.
Tak beberapa lama ibuku keluar, ia
menyerukan “mas layah . . !” dan seketika suara orang itu berhenti tepat di
depan rumahku.
“mas, brapaan layahnya?” tanya ibuku.
“niki seng alit gangsalwelas ewu bu,
nek seng ageng kalehdoso ewu” jawab penjual layah tersebut.
Penasaran,
aku pun keluar rumah menengok apa yang sedang di lakukan ibu. Waw, ternyata
sang penjual layah, cobek, dan ulekan tersebut masih berusia 16 tahunan,
seumuranku. Aku pun
berjalan menghampiri mereka, dan bertanya-tanya dalam hati, “anak ini masih bisa
di bilang remaja, seharusnya ia bersekolah kan?, mengapa ia berjualan layah,
cobek, ulekan seberat itu?”
Memang tidak ringan berjalan di sepanjang
jalanan kota sambil membawa barang yang terbuat dari batu berat, apalagi disaat musim kemarau yang panasnya
menyengat dengan debu yang beterbangan pada setiap harinya.
“Mas, ndak sekolah?” aku pun menyeletuk.
“hehe, belum lagi mbak. Saya bantu orangtua dulu” jawab mas si penjual layah
sambil tersenyum ikhlas.
“lo, kenapa? Bukanya setiap orangtua ingin
anaknya sekolah ya?” lagi-lagi aku mengeluarkan pertanyaan dari mulutku tanpa
berfikir dulu.
“Iya mbak, orangtua saya pengen saya
sekolah, saya pun juga pengen sekolah, tapi ya bagaimana lagi, cukup buat makan
saja sudah syukur. Mudah-mudahan
dengan saya bantu orang tua, adik saya bisa sekolah terus ya mbak. Keadaan yang memaksa saya seperti
ini.” Jawab anak penjual
cobek itu lagi.
Ya Allah………….,
betapa berat beban hidup yang harus dipikulnya, bahkan jauh lebih berat dari
cobek dan ulekan yang dipikulnya. Hal ini tidak sebanding dengan bebanku yang
sebenarnya telah di tunjang dengan fasilitas, tapi aku tidak pernah
mensyukurinya.
“sudah, sudah jangan kepo kasihan masnya kualahan jawab
pertanyaanmu yang Cuma tanya aja tapi ndak beli” sahut ibuku.
“biarin, aku kan belinya sudah di wakilin
ibu haha..” jawabku sambil tertawa kecil. Aku dan ibuku kalau berbicara memang
suka blak-blakan, karna memang kita sudah bagaikan teman hihi..
“Ini cobeknya ambil darimana mas?” tanya
ibuku.
“Tuhh kan sekarang ibu yang kepo!”
celetukku..
“Wah ini saya ambilnya jauh bu, di Tulungagung
sana pusatnya cobek batu tepatnya di Dukuh Mojo Desa Wajak Kidul Kecamatan
Boyolangu.” Jawab si penjual cobek dengan sopan.
“Jauh banget, masnya ini kok bisa sampek
sini naik apa?” tanyaku lagi.
“Biasanya saya beramai-ramai sama
teman-teman mencari tumpangan truk mbak, kalau ndak gitu mana ada angkutan umum
yang mau menerima penumpang seberat saya saya hehe” jawab penjual tersebut
sambil bercanda.
Tak beberapa lama kemudian..
“wah wah bisa aja mas ini, yasudah mas
saya beli yang ini, cobek yg besar satu yang kecil satu dan ulekannya dua ya.
Berapa totalnya?” tanya ibuku..
“totalnya 45.000 bu, buat penglaris hehe”
jawab si penjual cobek tersebut..
“Iya, sebentar ya mas..”
Aku dan ibuku pun masuk rumah untuk
mengambil uang, tak lama kemudian aku keluar untuk membayar cobek yang dibeli
tadi “ ini mas uangnya, kembaliannya untuk beli minum” sembari kusodorkan uang
Rp. 50.000,00 an.
Percakapan antara aku, ibu dan penjual cobek pun
selesai. Aku pun duduk kembali di kursi belajarku sambil memandangi labtop.Tentu
saja masih sama seperti tadi, nyatanya otakku yang buntu ini masih belum encer
juga untuk mengarang tugas cerpen dari Dinas Pendidikan. Tiba-tiba handphone
yang di sebelahku led merahnya nyalah kedap-kedip dan bergetar-getar yang menggodaku untuk membuka pesan
disana. Langsung aku menyautnya dari meja dan ku buka pesan yang ternyata dari
temanku yang sedang di buat buntu juga oleh tugas cerpennya. Ia mengajakku
untuk mengerjakan cerpen bersama. sebut saja dia Nana, dia teman seperjuanganku kemana-mana
(sahabat).
Setelah aku berbincang dengannya melalui
SMS, akhirnya kami pun sepakat untuk ke suatu tempat dan mengerjakan tugas
cerpen kami bersama-sama. Kami memutuskan untuk pergi ke taman Pelangi sambil
mencari inspirasi untuk cerpen kami nanti.
Sesampainya di taman Pelangi, lagi-lagi
aku melihat seorang penjual cobek lelah termenung sembaring menutup wajah di
indahnya hari itu. Menanti sebuah keberuntungan yang tak kunjung pula hadir.
Pasrah akan sebuah masa depan yang terlihat begitu gemerlap. Wajahnya memelas,
“apa ada orang yang tak bersyukur setelah melihatnya?” pikirku.. Di sudut taman
itu ia duduk manis di bawah pohon dengan resah dan lelah. Ia tak bersalah
sehingga harus menerima semua ini, “tak adakah yang ingin menyelamatkannya?”
Aku memang tak sepenuhnya tahu
tentang keadaan mereka para pendekar cobek. Aku pun tak mengerti mengapa aku
susah sekali bersyukur atas keadaanku, aku akui aku sering mengeluh dengan apa
yang terjadi pada hidupku. Rasa tak menyenangkan yang selalu aku keluhi, yang
sebetulnya merupakan hal-hal sepele, tetapi setelah melihat para penjual cobek
di sudut taman dengan pasrah itu aku jadi malu untuk mengeluh. Aku pun berfikir
“apa mereka pernah mengeluh? Jika iya, mengeluh pada siapa?”
Tatapanku tertuju terus pada tukang
cobek di sudut taman itu, mereka masih muda, mungkin tak beda jauh juga dengan
umurku. Tapi mereka berani mengadu nasib dengan pasrah di sepanjang kota dengan
menjual cobek yang mungkin menurutku tidak selalu laku setiap harinya. Kenapa? Karena
cobek bukan kebutuhan pokok (sembako) yang di perlukan setiap saat dan setiap
hari, apalagi cobek sudah jarang dipakai semenjak adanya tekhnologi yang lebih
canggih, yaitu blender dan chopper.
Aku memang belum tahu bagaimana cara
yang pantas untuk membantu mereka, tapi disini aku ingin berdoa untuk mereka
yang selalu berjuang demi kehidupanya yang antah berantah. Satu hal yang
menjadi catatan bagi saya, mereka menjalani hidup ini dengan realistis. Mereka
meninggalkan impian yang tak tergapai dengan memgejar impian yang “mungkin”
dapat dicapai, walau hanya untuk membantu meringankan beban orang tua ataupun
demi cita-cita adiknya. Sekolah bagi mereka mungkin impian yang tak tergapai. Pengalaman
hidup yang mereka alami adalah sekolah hidupnya, sementara aku?????
Rasa syukur ini
harusnya keluar dari lubuk hati, bagaimana tidak??
“Banyak orang
suskses tanpa harus sekolah tinggi, namun jauh……….. lebih banyak orang-orang
sukses dengan berpendidikan tinggi”. Presiden direktur, Direktur, Budayawan,
Dokter, Dosen, Pilot, Camat, Bupati, Menteri, Presiden, adakah yang lulusan SMP
atau SMA saja? Setidaknya mereka berkesempatan megenyam pendidikan tinggi.
Aku harus
mensyukuri kesempatanku untuk dapat bersekolah! Karena lebih banyak kesempatan
dan peluang sukses yang dapat kuraih melalui sekolah yang tinggi.
Bagiku, sekolah
adalah salah satu tiket untuk menggapai sukses, namun sekolah juga bukan
satu-satunya tiket untuk menggapai sukses. Banyak orang berpendidikan tinggi
namun sukses tak juga di dapat, sebaliknya banyak pula yang tidak berpendidikan
tinggi tetapi hidupnya sukses.
Orang orang yang
mampu mengambil pelajaran hidup, banyak bersyukur, dan tidak mudah menyerah
adalah orang-orang yang memperoleh
“sekolah kehidupan” yang baik. Penjual layah adalah pejuang hidup dan dia adalah
salah satu dari banyak orang-orang yang tengah “sekolah kehidupan” dan
darinyalah aku mengambil pelajaran hidup, bahwa “kesempatanku sekolah adalah salah satu tiket suksesku menggapai masa
depan” oleh karenanya aku tak pantas menyia-nyiakannya, aku harus berjuang
menggapai impian dan suksesku!!. Darinya pulalah tugas membuat cerpenku dapat
kuselesaikan.
Terima kasih.